Menurunkan Semangat Belajar Anak 

Bukan Bodoh, Hal Ini Juga Bisa Menurunkan Semangat Belajar Anak

Menurunkan Semangat Belajar Anak – Melihat anak semangat dalam belajar, tentu menjadi dambaan setiap pendidik. Saat masuk kelas, banyak siswa yang terlihat ceria. Di samping budi pekerti, setiap orangtua tentu ingin punya anak yang rajin belajar supaya pintar dan berprestasi. Harapannya, itu akan membuat masa depan anak cerah.

Namun kenyataannya, gak sedikit anak yang seperti enggan saban disuruh belajar. Tentu, ini juga berimbas pada nilai-nilai yang diperolehnya di sekolah. Meski begitu, jangan sampai orang tua keceplosan menyebut anak bodoh ya? Sebutan demikian terlebih bila diulang-ulang bahkan di depan orang banyak tentu akan membuat anak sangat malu dan terluka.

Alih-alih lekas menilai anak bodoh, orang tua mesti memahami sebab-sebab yang bisa membuat mereka login idn poker via website malas belajar seperti:

Belum bertemu tipe pengajar yang sesuai

Bukan berarti pengajarnya yang salah. Namun kecocokan antara karakter pengajar dan gaya mengajarnya dengan karakter anak juga penting. Selagi beberapa anak senang diajari dengan cara sesingkat mungkin, mereka dianggap memiliki kemampuan untuk memahami sendiri materi dalam buku, ada pula anak-anak yang lebih suka dijelaskan sampai sedetail mungkin.

Mereka lebih senang menyimak penjelasan guru ketimbang dianggap pasti sudah bisa sekalipun materinya terbilang mudah. Beberapa anak lagi lebih menaruh kepercayaan pada pengajar yang sudah senior atau justru masih muda sehingga terasa seperti teman.

Mungkin terdengar sepele bagi kita yang sudah dewasa. Namun ketidakcocokan tipe guru dan gaya mengajarnya dengan keinginan anak bisa membuat anak sulit mengikuti pelajaran bahkan merasa kesal.

Disuruh belajar terus, hobinya gak dikasih tempat

Anak tahu kok, mereka perlu belajar. Namun tentu saja, belajar terus membuat mereka jenuh. Terlebih mereka punya minat di luar pelajaran. Misalnya, olahraga atau seni. Kita sebagai orangtua harus bisa memahami ini. Hanya karena anak-anak dalam usia sekolah bukan berarti hidup mereka sepenuhnya hanya untuk pelajaran.

Mereka berhak menikmati berbagai hal dalam hidup ini. Salah satunya menyalurkan hobi. Jika ini tetap diberi tempat, justru bisa membuat anak lebih semangat belajar. Sebab melakukan hobi tak ubahnya penyegaran. Mereka merasa senang dan rileks sehingga energi yang terkuras selepas sekian lama belajar akan pulih.

Lagi pula, hobi juga bisa menjadi prestasi bukan? Itu akan menjadi poin lebih bagi anak. Bahkan hobi yang diseriusi bisa menjadi profesi anak di masa depan. Sebagai orangtua, kita perlu berpikiran terbuka. Bukan malah mengekang anak sekalipun niat kita baik.

Sering dibilang bodoh dan dibandingkan dengan saudara atau temannya

Kata-kata yang negatif juga bisa menjadi motivasi untuk membuktikan yang sebaliknya. Hanya saja, biasanya ini terjadi pada orang yang sudah dewasa sebab egonya merasa tertantang. Sedang pada anak-anak, mereka cenderung tidak siap dan justru akan makin kehilangan semangat belajar.

Bukan hanya itu, mereka juga bisa tumbuh dengan kepercayaan diri yang rendah dan citra diri yang buruk. Sebutan bodoh seperti cap yang tercetak tebal di benak mereka. Mereka bodoh dan selamanya tak ada yang bisa mengubah itu. Maka mereka menjadi makin malas belajar. Segala hal tentang belajar bahkan bisa menjadi trauma baginya.

Selain demi nilai, anak belum tahu tujuan dan manfaat dari apa pun yang harus dipelajarinya

Bersyukurlah kita bila memiliki anak-anak yang kritis. Mereka gak mudah disuruh begini begitu sampai mendapatkan penjelasan yang masuk akal. Hanya saja, sering kali anak memang belum mampu mengungkapkannya dengan jelas. Sementara kita sendiri sebagai orang tua belum tentu peka.

Bagi sebagian anak mungkin mudah saja untuk diajak mempelajari ini itu. Namun sebagian lagi barangkali tak habis pikir kenapa mereka harus melakukannya? Matematika misalnya. Untuk apa mereka harus menghitung luas permukaan, keliling, dan volume bangun ruang?

Pada tingkat yang lebih tinggi, mengapa harus mempelajari logaritma dan integral? Apa gunanya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah itu benar-benar penting? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dengan atau tanpa diutarakan oleh anak, harus dapat dijelaskan oleh orang tua atau gurunya. Bila tidak, anak akan merasa kurang tertarik untuk mempelajarinya bahkan mungkin membencinya.

Orang-orang di rumah juga gak pernah terlihat belajar

Kondisi di sekitar anak setiap harinya gak bisa diremehkan lho. Lingkungan rumah mengambil peran besar dalam membentuk kebiasaan dan karakter anak. Jika dia gak pernah melihat orangtua atau orang dewasa di sekitarnya belajar atau membaca, tentu wajar bila anak merasa muak jika terus disuruh belajar.

Sebaliknya, jika sejak kecil anak sudah sering melihat orang tua membaca buku misalnya, tanpa disuruh pun mereka akan otomatis mencontohnya. Makin parah bila anak selalu disuruh belajar, tetapi orang tua malah asyik menonton berbagai hiburan di televisi. Jadi, pastikan kita siap memberikan keteladanan ya?

Gak ada apresiasi dari orang terdekat untuk keberhasilan maupun kegagalannya, datar saja

Memang sih, anak harus memahami bahwa belajar itu untuk kebutuhannya sendiri. Meski begitu, siapa pun pada dasarnya juga memerlukan apresiasi dari orang lain apalagi orang terdekat bukan? Terlebih saat masih anak-anak.

Kebutuhan mereka akan perhatian orang terdekat jauh lebih besar ketimbang orang dewasa. Jika kita gak menunjukkan perasaan bangga saat mereka berprestasi dan tetap mendukung kala mereka gagal, wajar jika mereka berkesimpulan keduanya sama saja. Apa yang dilakukannya tidaklah penting, jadi lebih baik gak perlu repot-repot belajar.

Mendidik anak memang bukan tugas yang mudah. Namun menyebut anak bodoh sama dengan mengolok-olok kita sendiri sebagai orangtuanya, kan?