Gugus Tugas Cari Cara agar Tes PCR Covid-19 Tak Bebani Masyarakat

Gugus Tugas Cari Cara agar Tes PCR Covid-19 Tak Bebani Masyarakat

Gugus Tugas Cari Cara agar Tes PCR Covid-19 Tak Bebani Masyarakat

Gugus Tugas Cari Cara agar Tes PCR Covid-19 Tak Bebani Masyarakat – Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan saat ini pihaknya sedang mencari cara agar harga tes polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi virus Corona Covid-19 tidak membebani masyarakat.

Pasalnya, biaya tes PCR Covid-19 sering dikeluhkan masyarakat karena harganya yang cukup mahal.

“Kami sedang mengupayakan mencari cara memperbaiki harga pada tes PCR mandiri serta distribusi kit sesuai permintaan masyarakat. Kami ingin menghindari upaya komersialisasi layanan kesehatan,” kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan di Youtube joker123 Sekretariat Presiden, Kamis (16/7/2020).

Untuk sekali pengetesan, diperlukan satu reagen seharga Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, harga itu belum termasuk alat-alat lainnya dalam pemeriksaan Covid-19.

Sehingga diperkirakan total pengeluaran yang dikeluarkan untuk satu kali pemeriksaan sebesar Rp 1,2 juta. Biaya tersebut bisa berbeda di setiap rumah sakit dan daerah.

Batas Tarif Tertinggi PCR

Wiku juga menjelaskan, perbedaan tarif untuk tes PCR di sejumlah daerah terjadi karena berbagai faktor. Misalnya, biaya aksesibilitas, logistik, peralatan pengujian, kelengkapan Alat Pelindung Diri (APD), hingga biaya spesialis layanan medis.

“Kebutuhan harga pengujian memang sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya dan tidak dapat di patok harganya,” jelasnya.

Dia mengakui hingga kini memang belum ada batas tarif tertinggi untuk pengujian spesimen Covid-19 melalui metode tes PCR mandiri.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan baru menetapkan batas tarif tertinggi rapid tes (tes cepat) sebesar Rp 150 ribu.

“Selain batas tarif tertinggi untuk rapid test, kami mengakui belum ada batas tarif untuk tes PCR,” ucap Wiku.

Pertama yaitu melalui media televisi, kedua melalui radio, ketiga media sosial, keempat melalui koran, dan kelima melalui cara konvensional seperti ceramah-ceramah di masjid.

Lilik menyadari jika tidak semua masyarakat Indonesia memiliki tv, radio, gadget, maupun mampu untuk membeli koran. Bahkan mungkin tidak ada yang menjual koran di daerahnya.