Gara-gara Facebook, Jack Dorsey Ingin Dilengserkan dari Kursi CEO Twitter

Gara-gara Facebook, Jack Dorsey Ingin Dilengserkan dari Kursi CEO Twitter

Gara-gara Facebook, Jack Dorsey Ingin Dilengserkan dari Kursi CEO Twitter

Gara-gara Facebook, Jack Dorsey Ingin Dilengserkan dari Kursi CEO Twitter,- Pendiri sekaligus CEO Twitter, Jack Dorsey, diterpa cobaan. Kursi CEO kabarnya ingin direbut oleh investor. Salah satu alasannya, karena era Jack, Twitter kalah telak dari Facebook dalam pendapatan perusahaan.

Ialah Paul Singer, miliarder pendiri Elliott Management, aktivis pendanaan yang memegang saham Twitter, yang disebut-sebut mau mendorong perubahan di Twitter, dengan cara menggantikan Jack.

Kabarnya, seperti dilaporkan Bloomberg, yang dilansir Kumparan pada Senin (2/3/2020), ada empat direktur yang dinominasikan oleh Elliott Management kepada dewan direksi Twitter.

Sebenarnya, hanya ada tiga kursi direksi yang tersedia dalam agenda tahunan Twitter pada 2020, tapi Elliott ingin memastikan semua nominasi direktur itu terisi. Namun, tidak diketahui secara detail berapa nilai saham Twitter yang dikuasai oleh Elliott.

Menurut sumber Bloomberg, Elliott telah mendekati Twitter terkait keinginan perubahannya itu secara diam-diam. Diskusi pun sudah dijalin sejak itu.

Salah satu alasan Elliott ingin melengserkan Dorsey kabarnya disebabkan terpecahnya fokus Dorsey yang memimpin dua perusahaan. Selain media sosial Twitter, Dorsey juga diketahui memimpin perusahaan pembayaran bernama Square.

Sejak Dorsey kembali menjabat CEO Twitter pada Juli 2015, nilai saham perusahaan turun sebesar 6,2 persen. Di sisi lain, pesaing mereka Facebook mendulang kenaikan hingga 121 persen.

Keinginan Dorsey menghabiskan waktu di Afrika selama enam bulan pada tahun ini juga menjadi pertimbangan lain aktivis investor Elliott, seperti dilaporkan CNBC.

Tentu kabar ini menjadi tantangan yang berat bagi Twitter. Apalagi, platform media sosial berlogo burung biru itu sedang menghadapi penyebaran informasi hoaks seputar virus corona, pelecehan, bullying, hingga kampanye pemilu AS yang telah di depan mata.