Bersepeda, Aktivitas yang Sempat Terlupakan 23 Tahun

Bersepeda, Aktivitas yang Sempat Terlupakan 23 Tahun

Bersepeda, Aktivitas yang Sempat Terlupakan 23 Tahun

Bersepeda, Aktivitas yang Sempat Terlupakan 23 Tahun – Bersepeda, olahraga yang hanya mengandalkan modal sepeda dan kemauan manusia untuk mengayuh pedal sepeda.

Sepeda pun bermacam. Dari pit onthel hingga sepeda gunung. Semua fungsi utamanya sama, untuk sarana transportasi dan olahraga.

Saat saya masih SMP, sekitar tahun 94/95- 96/97, hampir semua siswa yang bersekolah di SMP dan SMA. mana saja lebih banyak yang ngepit atau bersepeda.

Dari pagi pukul 06.00 hingga 06.30an di jalan mengkayuh sepeda para pejuang ilmu. Ada keseruan saat bersepeda pagi.

Bercanda gurau tetap kami lakukan. Saling menyapa atau menyalip siswa dari sekolah lain.

Tak peduli jika disebut sok kenal sok akrab. malah itulah hal yang sangat mengesankan sampai kini.

TidakĀ  tahu nama namun wajah tak asing diingatan. Tak jarang hingga saling mengenal lebih. mesti dari teman yang mengenal siswa lain sekolah tadi.Lama lama, siswa yang bersepeda saat berangkat ke sekolah mulai berkurang.

Saya sendiri dan saudara kembar saya masih setia mengayuh sepeda yang dibelikan orangtua hingga tahun ketiga SMP.

Saat itu, sepeda mini dengan keranjang pada bagian depan kami kayuh setiap berangkat dan pulang sekolah.

Meski satu sekolah, orangtua tetap membelikan satu-satu. Mungkin takut kalau akan bertengkar, saling iri dan menghindari rasa pilih kasih.Sepeda mini warna putih. Tak lupa orangtua juga memberi kunci sepeda.

Ya untuk menghindari agar sepeda tetap aman. Teman lainnya juga sama . Sampai di parkiran belakang kelas, sepeda dikunci.

Selama tiga tahun berangkat dan pulang sekolah naik bersepeda. Sampai akhirnya lulus SMP dan sekolah di kota kabupaten. Sebab jauh dari rumah, oleh orangtua, saya dan kembaran dikoskan dekat sekolah.

Selama tiga tahun di SMA saya tidak bersepeda. Dan itu berlanjut sampai saya kuliah.Dalam kurun waktu 2000-2004, sepeda sudah hilang dari buku hidup saya.

Tak mungkin untuk sampai Jogja dari Gunungkidul menggunakan bersepeda. Bahkan dari perumahan yang dibeli orangtua di daerah Bantul pun masih jauh kampus saya.

Berkendaraan motor saya lakukan hingga lulus dan bekerja. Untuk pemenuhan kebutuhan olahraga, saya hanya melakukan kerjaan di rumah, mulai dari momong anak, masak, mencuci, mengepel dan sebagainya.

Menurut petugas kader kesehatan, itu sudah termasuk olahraga ringan yang menyehatkan untuk ibu-ibu yang mempunyai balita.

Baru-baru ini, saya tergerak untuk mencoba bersepeda lagi ketika melihat sepeda anak saya. Sepeda mini berkeranjang di depan warna biru. Rasa ingin tahu ketika melihat sepeda milik anak.

“Ngepit we kok lali…,” kata saya ketika gagal mengayuh sepeda. Hihiii…

Lama tak bersepeda, ternyata membuat kaki dan tangan saya tak lincah lagi bersepeda. Untuk mengayuh pedal saja rasanya kaki saya kaku.

Keseimbangan tangan juga tak seperti 23 tahun yang lalu. Ternyata lama tak bersepeda bisa membuat lupa bagaimana cara bersepeda.

TetapiĀ  saya tetap berusaha mengayuh lagi sepeda anak saya. mendingan, dengan hati dag dig dug, saya berhasil mengayuh sepeda. Walau belum terlalu lancar seperti saat SMP dulu.

Perlu saya lakukan setiap hari agar tubuh lebih sehat dan bugar. Walau hanya berkeliling di halaman rumah bapak yang lebih luas.