Protes Lebanon Berlanjut di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik

Protes Lebanon Berlanjut di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik

Protes Lebanon Berlanjut di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik  – Tingkat desersi tentara dan polisi Lebanon berisiko naik karena meningkatnya ketidakpuasan jajaran pasukan keamanan atas jatuhnya nilai mata uang Lebanon, yang otomatis mengurangi sebagian besar nilai gaji mereka.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Joseph Aoun mengatakan bahwa peringatan tentang tekanan pada pendapatan dan moral tentara dapat menyebabkan “ledakan” telah diabaikan. Kisruh politik dan krisis ekonomi yang melanda Lebanon telah membuat para warga terus melakukan protes. Pada hari Senin, 8 Maret protes telah berlangsung selama tujuh hari berturut.

Para demonstran telah mendesak adanya upaya dalam Deposit Club388 via Pulsa krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih dari setahun telah semakin parah dengan adanya virus corona dan terjadinya ledakan di Beirut pada Agustus tahun lalu, yang menewaskan 211 orang dan telah memicu krisis politik.

1. Mata uang Lebanon semakin kehilangan nilainya

Melansir dari Al Jazeera, protes telah berlangsung sejak anjloknya nilai mata uang pound Lebanon yang turun menjadi 10.000 per dolar AS atau setara dengan Rp14 ribu. Nilai mata uang Lebanon telah berkurang nilainya sebanyak 85 persen pada Selasa pekan lalu. Hal tersebut telah menjadi masalah serius bagi Lebanon yang telah menghadapi harga barang konsumsi naik hampir tiga kali lipat sejak krisis meletus.

Para pengunjuk rasa telah memblokir jalan di Lebanon. Tiga jalan utama menuju selatan ke ibu kota Beirut dari Zouk, Jal al-Dib dan al-Dawra diblokir pada Senin, sementara di Beirut sendiri, pengunjuk rasa sempat memblokir jalan di depan bank sentral.

Pascale Nohra, seorang pengunjuk rasa di Jal al-Dib, menyampaikan bahwa, “kami telah mengatakan beberapa kali bahwa akan ada peningkatan karena negara tidak melakukan apa-apa.”

Sementara di Tyre, seorang pria mencoba membakar dirinya dengan menuangkan bensin ke tubuhnya, untuknya petugas keamanan menghentikannya tepat waktu.

Krisis keuangan Lebanon, yang meletus pada 2019, telah mendorong hampir setengah dari enam juta penduduk ke dalam kemiskinan, menyapu bersih pekerjaan dan tabungan, serta memangkas daya beli konsumen.

2. Penutupan jalan bisa menggangu distribusi pasokan oksigen
Protes Lebanon Berlanjut di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik 

Melansir dari Independent, penutupan jalan yang dilakukan para demonstran di arus utama jalan ibu kota. Menyebabkan kemacetan lalu lintas dan telah membuat khawatir rumah sakit mengenai ketepatan pengantaran pasokan oksigen untuk para pasien virus corona.

Presiden Sindikat Rumah Sakit di Lebanon, Sleiman Haroun mengatakan bahwa setelah dua hari pada akhir pekan ketika tidak ada distribusi oksigen, beberapa rumah sakit telah kekurangan pasokan, terutama untuk merawat pasien COVID-19.

“Ini bukan lelucon. Ini masalah hidup dan mati, ”kata Haroun mendesak pengunjuk rasa untuk mengizinkan kendaraan yang membawa pasokan oksigen lewat. Di Lebanon ada beberapa pabrik oksigen yang menjadi pemasok untuk rumah sakit di seluruh negeri, termasuk beberapa di daerah terpencil.

Sejak adanya virus corona Lebanon telah menerapkan pembatasan selama berminggu-minggu. Kasus virus corona di Lebanon tercatat lebih dari 395.000 kasus dan telah menewaskan 5.047 orang. Termasuk 33 orang pada hari Minggu yang juga menambah 2.377 kasus baru.

3. Perdana Menteri ancam akan mengundurkan diri
Protes Lebanon Berlanjut di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik 

Melansir dari Reuters, krisis politik juga sedang berlangsung di Lebanon. Setelah terjadi ledakan di Beirut tahun lalu pemerintah berikutnya telah mengundurkan diri. Perdana Menteri yang ditunjuk Saad Al-Hariri gagal membentuk kabinet baru karena berselisih dengan Presiden Michel Aoun.  Dan tidak dapat membentuk pemerintahan baru untuk melaksanakan reformasi yang akan menerima bantuan miliaran dolar dari pihak internasional.

Pada hari Sabtu, Perdana Menteri Hassan Diab mengancam akan mengundurkan diri. Sebagai upaya meningkatkan tekanan kepada pihak yang menghalangi pembentukan pemerintahan baru.

Diab dikabarkan bertemu dengan Presiden Aoun, beberapa menteri sementara, kepala bank sentral dan pejabat keuangan dan keamanan pada hari Senin.